+62 294 388 160 | pusdalops.bpbdkab.kendal@gmail.com

BERITA

Begini Langkah BNPB Bantu Atasi Kekeringan di 526 Kecamatan

Kamis, 30 Juli 2015 08:29:11

Jakarta - Indonesia saat ini tengah menghadapi bencana El Nino yang menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), saat ini sudah ada 526 kecamatan yang mengalami kekeringan dari 12 provinsi.

"Per hari ini, terdapat 12 provinsi, 77 kab/kota, dan 526 kecamatan telah mengalami kekeringan," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo di Graha BNPB, Jl Pramuka Raya, Jaktim, Selasa (27/7/2015).

Adapun 12 Provinsi tersebut adalah Jateng, Jabar, Jatim, Banten, Papua, NTB, NTT, Sumsel, DIY, Sulsel, Lampung, dan Bali. Masalah kekeringan ini akhirnya berdampak pada krisis air di mana menurut data dari Kementerian PU dan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, wilayah Jawa, Bali, dan NTT sudah defisit air sejak tahun 1995.

"Artinya ketersediaan air yang ada saat ini tidak mampu memenuhi semua kebutuhan air bagi penduduk setiap tahunnya, baik kebutuhan rumah tangga, irigasi, industri, perkotaan dll. Saat musim penghujan terjadi surplus air bahkan terjadi banjir, tetapi saat kemarau defisit air sehingga terjadi krisis air," kata Sutopo.

Untuk saat ini, di Jawa dan Bali terdapat kekurangan air hingga 18,97 miliar m3, dan di Nusa Tenggara 0,44 miliar m3. Dari kajian Bappenas, di pulau Jawa ada 92 kab/kota defisit air selama 1-8 bulan, dan 38 kab/kota defisit tinggi hingga lebih dari 6 bulan.

"Itu kemarau biasa. Apalagi kena dampak El nino. Kekeringan itu sebenarnya rutin, ada beberapa wilayah yang secara alamiah kering seperti Boyolali, Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul, Blora, dan Tuban. Masyarakat di sana sudah beradaptasi dengan membuat tandon air, perilaku hemat air," jelas Sutopo.

BNPB sendiri telah melakukan upaya-upaya dalam menangani bencana kekeringan ini. Yakni dengan melakukan distribusi air bersih bagi yang kekurangan seperti mengerahkan mobil tangki, pompa air, pembangunan bak penampungan air, perbaikan pipa, pembuatan sumur bor. Selain itu BNPB juga selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk hemat air.

"Kepala daerah banyak yang sudah menyatakan status Siaga Darurat Kekeringan di wilayahnya. Pemda masih mampu mengatasi kekeringan di wilayahnya dengan menggunakan APBD," tutur Sutopo.

Meski demikian, BNPB tetap menyiapkan dana sebesar Rp 75 miliar untuk diberikan kepada BPBD yang memerlukan bantuan terkait dengan adanya kekeringan yang diprediksi akan terjadi hingga November 2015 nanti. Hal tersebut merupakan upaya jangka pendek hingga awal musim penghujan.

"Jangka panjang membangun waduk untuk menampung air hujan sebanyak-banyaknya, rehabilitasi hutan, tapi butuh waktu lama bisa sampai 30 tahun," ucapnya.

Akibat El Nino kali ini, sekitar 25.000 hektar puso dari 200.000 hektar lahan pertanian menjadi rawan kekeringan. Ancaman kekeringan akan terus meningkat hingga puncak musim kemarau yang akan lebih panjang dibanding tahun lalu.

Mengingat defisit air sudah terjadi di sejumlah wilayah, Sutopo menyarankan perlu dilakukannya sejumlah upaya yang bisa dilakukan oleh setiap pihak. Mulai dari hemat air, membuat sumur resapan, dan bedungan mini di setiap kompleks atau kampung masing-masing.

"Kita perlu melakukan intervensi dengan membangun sumur serapan. Kalau kita buat secara masive itu sangat efektif karena itu memaksa air hujan masuk ke tanah. Pemerintah mungkin bisa mewajibkan di kompleks-kompleks, permukiman, nantinya biaya bisa dibebankan ke pemerintah. Gedung bertingkat seperti apartemen menginjeksi utk bypass untuk konversi air ini. Untuk Jakarta sendiri aja kita butuh 2 juta sumur resapan," terang Sutopo.

"Masalah sosial memang tidak mudah, termasuk untuk pembangunan waduk. Warga nggak mau direlokasi padahal manfaatnya banyak. Untuk atasi itu maka bisa buat bendungan skala mini. Dam mini (bendung mini) dibuat di sungai-sungai yang ada di kampung. Biayanya pun nggak besar," tutupnya.